Mendapati Suami Teman Anda Berselingkuh, Barang apa yang Harus Dilakukan?

TABLOIDBINTANG. COM – Anda padahal bertugas ke luar kota selama beberapa hari. Dalam satu kesempatan tak terduga, Anda melihat suami seorang teman berada di restoran yang sama. Tapi ia sesuai sekali tak mau berbasa-basi, makin menyapa. Ia bahkan bersikap seolah tak mengenali Anda. Apa perkara? Ternyata bukan karena berada di luar kota, tapi karena wanita yang duduk mesra di sampingnya. Yang Anda tahu, wanita tersebut bukan teman Anda, dan serupa bukan istrinya.

Meski Anda tergolong wanita yang sukses, tetap saja muncul berbagai pertanyaan yang memancing rasa ingin cakap. Apakah dia lebih muda? Apakah ia punya rambut indah? Seluruh hal soal penampilan si wanita tadi seakan memenuhi benak Anda. Bukan apa-apa. Anda cuma punya perasaan yang tak bisa ditahan lagi, seakan punya tanggung berat untuk melakukan sesuatu. Menikah ataupun tidak, punya anak atau tak, mungkin itu termasuk pertanyaan dengan muncul kemudian. Wanita seakan memiliki naluri terhadap ancaman retaknya perkawinan.

Memang sih, wanita juga yang membuat pria berselingkuh. Tapi tak bisa disangkal, rasanya pria lebih mudah tergoda wanita di luar lingkungan keluarganya, setidaknya setelah punya anak. Dan agaknya istri-istri lebih banyak menghabiskan waktu mempertanyakan kesetiaan suaminya dibanding para suami. Masalahnya sekarang, kalau melihat suami teman Anda berselingkuh, apakah Anda punya tugas etis untuk mengatakan kabar buruk itu?

Tapi setelah dipikirkan, yang tidak hanya butuh waktu berjam-jam, jawabannya mudah saja, kalau tak ada pertanyaan, jangan dijawab. Dengan kata asing, kecuali teman Anda bertanya, bertambah baik diam saja. Itu kendati kalau teman Anda jelas-jelas mempersunting perselingkuhan suaminya. Kalau berandai-andai, sepantasnya tak perlu Anda beri sinyal-sinyal tertentu yang malah membuat saudara Anda curiga. Bayangkan saja kalau kejadian serupa menimpa Anda. Tentu Anda tak ingin diberitahu kabar buruk itu kan? Lebih jalan melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Pikirkan dengan matang sebelum memberitahu

Rasanya kesal kalau melihat seseorang yang Anda kenal disakiti. Apalagi melihatnya secara langsung, oleh karena itu Anda punya bukti kuat faktual. Tapi seandainya langsung memberitahu teman Anda, apakah itu hal dengan paling baik? Sebelum memberitahukan informasi buruk itu pada teman Kamu, sebaiknya pikirkan lagi lebih sampai. Jangan sampai Anda menyesalinya kemudian.

Cobalah pikirkan bertambah dalam. Anda sebagai penyampai pesan, menyampaikan kabar buruk pada jodoh Anda. Kalau Anda bersahabat depan, mungkin kata-kata Anda bisa dipercaya. Itu pun kalau ia terang suaminya orang brengsek. Masalahnya mana yang akan lebih dipercaya? Omongannya atau omongan suaminya? Kalau Anda berniat membawa bukti, misalnya memotret atau hal lain, bisa saja. Tapi bukankah akan tampak tak etis, membawa-bawa bukti penyelewengan suami orang? Jangan-jangan Anda malah dituduh memfitnah hingga membuat famili orang lain berantakan.

Seandainya teman Anda percaya, lalu bukti-bukti itu dibawanya pada suami, apa yang akan terjadi selanjutnya? Biasanya ada 2 hal yang natural dilakukan para suami. Pertama, membenarkan perbuatannya. Ada kemungkinan ia akan mengajukan pembelaan. Misalnya, itu hanyalah satu kekhilafan yang tak mau terjadi lagi. Atau itu hanyalah pertemuan biasa yang tak melibatkan cinta sama sekali. Jadi dia akan berusaha melupakan dan tak akan pernah melakukannya lagi. Kemungkinan kedua, mungkin si suami tidak akan mengakui perselingkuhannya. Meski ada bukti berupa foto, misalnya, dalam zaman secanggih ini, mudah sekadar membuat foto seperti itu membentuk? Kalau sampai si istri percaya perkataan suaminya, posisi Anda bisa gawat.

Kemungkinan mula-mula, bukan tanpa masalah. Setelah sang suami mengaku, apa yang mau dilakukan istrinya? Bercerai? Jangan datang Anda merasa bersalah jika kejadian ini yang terjadi. Kalau tidak bercerai, apakah si istri bersetuju memberikan kesempatan kedua pada suaminya? Kalau iya, apakah situasi dan kondisinya bisa seperti dulu? Peluang besar tidak. Akan terjadi ketidaknyamanan dalam hubungan Anda dengan tim mereka. Coba bayangkan, Anda memergoki suaminya menyeleweng. Mungkin si pedusi bisa terus menjalin hubungan cantik dengan Anda, tapi pasti dia akan menjaga perasaan suaminya pula. Suaminya pasti merasa malu dengan penyelewengannya. Akan sangat tidak sip bila Anda berada satu ruangan dengan suaminya. Ada perasaan canggung, jengah, malu dan semuanya kacau aduk sampai tak tahu teristimewa apa yang harus dilakukan. Buat menghindari hal itu, biasanya jiwa istri mencoba untuk tidak sedang memberi kesempatan pada Anda bertemu dengan suaminya. Wah, bisa-bisa Kamu tak akan mendapat undangan pesta di tempatnya lagi!

Pada akhirnya, kita menyadari tetap ada jalan keluar dalam di setiap masalah. Dalam perkawinan, biasanya tersedia kompromi dan penyesuaian yang dilakukan antara suami dan istri buat menjaga keutuhan komitmen mereka. Kalau salah satu dari mereka rusak, bukan tidak mungkin dilakukan kompromi dan penyesuaian lagi. Bercerai? Kira-kira jadi jalan keluar yang menyesatkan terakhir, apalagi jika sudah punya anak. Lagipula, apa yang dilihat mata Anda sebagai perselingkuhan, bisa jadi bagi mereka hanya pertemanan biasa. Siapa tahu nilai-nilai yang mereka anut berbeda dengan Anda. Ganjil? Tapi boleh jadi benar, ‘kan?

Bagaimana dengan transmisi penyakit?

Masalahnya lebih berat jika memperhitungkan risiko bagi kesehatan reproduksi teman Anda. Di zaman yang canggih bagaikan ini, memang banyak obat dengan berhasil ditemukan. Namun tak sedikit pula penyakit baru yang hidup. Misalnya AIDS yang sampai sekarang belum ketahuan obatnya. Dan itu tak bisa disangkal, bisa menular lewat hubungan seksual. Tapi apakah ini sudah bisa jadi bukti untuk mengatakan penyelewengan si suami di depan istrinya?

Kebanyakan orang cenderung mengagungkan monogami. Ada juga yang menggunakan penyakit kelamin sebagai alasan untuk tentu bermonogami. Tapi masih banyak lagi yang tak peduli akan kesehatan tubuh reproduksinya. Tapi masalahnya tak sesederhana yang terlihat. Kenapa? Pertama sebab Anda hanya bisa menduga sekitar mana hubungan sang suami dengan selingkuhannya. Tak bisa secara terang, kecuali Anda memang sudah beriktikad dan berusaha memergokinya di tempat tidur. Tapi jarang sekali dengan melakukan hal ini. Yang ke-2, kalau yang jadi fokus menjawab Anda adalah kesehatan si orang yang notabene adalah teman Anda, rasanya lebih mudah jika menemui suaminya dan mengatakan terus terang apa yang Anda ketahui. Kalau ia tidak bertindak atau membatalkan hubungan dengan wanita itu, Kamu bisa memperingatkan istrinya. Memang terlalu berisiko, membuat hubungan Anda dengan suaminya jadi tidak nyaman. Tetapi kalau ingin teman Anda tidak lagi merasa bersalah karena menderita penyakit kelamin, itu satu-satunya alternatif. Biar si istri tahu, kalau ia tak bersalah.

Di awal artikel, disebutkan bahwa lebih baik diam jika tak ditanya. Berpura-puralah kalau Anda tidak tahu apa yang terjadi. Tapi memang ada satu waktu pada mana Anda tak bisa lagi tinggal diam. Seperti yang sudah dialami Vicki. Seorang temannya menelepon sambil menangis. Ia memang sudah mendengar keburukan suaminya, tapi tidak pernah menggubris. Sampai suatu masa ia menemukan surat cinta dalam saku celana suaminya, juga bahan make-up yang sebelumnya belum sudah ia lihat di mobil suaminya. Ditambah lagi dengan datangnya dakwaan kartu kredit yang jumlahnya bertambah untuk membeli barang yang tidak pernah ia lihat. Vicki panik harus mengatakan apa. Sementara temannya sudah tak tahan, sampai berencana membakar semua barang-barang itu, termasuk kasur yang biasa dipakai tidur olehnya.

Vicki kesimpulannya mendatangi temannya. Saat itu dia tak bisa lagi berbohong. Temannya menanyakan sambil menatap mata Vicki, benarkah apa yang jadi kecurigaannya itu? Terpaksa Vicki mengiyakan, kebingungan temannya benar. Suaminya memang bermukah. Pada akhirnya mereka bercerai. Vicki memang menyesalkan apa yang berlaku, terutama akibatnya terhadap ketiga bani mereka. Sampai saat ini, Vicki terkadang merasa bersalah. Apalagi temannya baru bisa melupakan trauma tersebut setelah 5 tahun, di mana ia mulai membuka hatinya buat pria lain.

Pernikahan memang melibatkan kepercayaan. Kalau Anda tak bisa percaya pada suami atau sebaliknya, mustahil bisa menetap lama. Jadi kalau Anda benar menikmati kehidupan perkawinan, jalani secara sepenuh hati. Berbahagialah dengan barang apa yang sudah Anda miliki, bersyukurlah dengan apa yang sudah Kamu lalui bersama. Jangan sampai ada orang lain yang bisa merusaknya. Dan ingat, Anda menikah dengannya sekali seumur hidup. Untuk tersebut, upayakan dekat dengan keluarganya. Tanpa segan untuk bercerita pada mertua Anda, jangan hanya pada orangtua Anda sendiri. Berbagi perasaan dengan pasangan hidup bisa melekatkan hubungan Anda. Kalau Anda bisa silih memenuhi kebutuhan masing-masing, apalagi yang akan dicarinya?

Rekomendasi