Kalau Bisa di Rumah Saja, Kok Harus Berangkat Kerja?

TABLOIDBINTANG. COM –┬áSejak pustaka manusia mulai bekerja dari pagi samai sore? Saya tidak terang, mungkin sejak revolusi pertanian dimana┬ámulai banyak pemilik tanah dan klan orang yang tak memiliki lahan garapan. Para pemilik tanah perlu bantuan orang lain mengolah tanah untuk ditanami. Sementera yang tidak memiliki tanah perlu penghasilan dengan menggarap tanah milik para juragan. Para pekerja ini bergulat pada ladang dari pagi sampai burit. Mereka mendapat imbalan, mula-mula berbentuk bagian hasil panenan sebelum kesudahannya dalam bentuk uang.

Setelah revolusi industri dan terlihat berbagai alat produksi, para pemilik modal yang membeli berbagai media produksi membutuhkan banyak tenaga untuk menjalankan roda produksi. Banyak pabrik berdiri dan membutuhkan banyak pelaku. Dalam pekerjaan jenis ini, daya para pekerja ditentukan oleh ketrampilan menjalankan alat produksi dan eksistensi mereka di tempat kerja menjelma mutlak. Semakin lama berada di tempat kerja, produktivitas makin agung. Mesin-mesin produksi tentu tak jadi bisa dibawa pulang agar pekerja bisa bekerja dari rumah.

Tapi setelah ditemukan internet, yang tak sampai satu kala perkembangannya sudah demikian pesat, penuh hal mulai berubah. Muncul penuh pekerjaan jenis baru, dan dengan cepat mengubah banyak hal dalam dunia kerja.

Jauh sebelum wabah Corona datang, sudah banyak cara-cara bekerja yang berubah. Banyak pekerjaan mampu diselesaikan tanpa mengharuskan kehadiran praktisi di tempat kerja. Editor pada media online, misalnya, mereka mampu bekerja di mana saja tanpa harus ke kantor dan langgeng produktif. Tapi reporter tentu sekadar harus terjun ke lapangan buat mendapatkan berita. Tempat yang menjanjikan jaringan internet kencang menjadi spot favorit. Saat ini, mereka yang di rumah saja sepanjang keadaan, belum tentu pengangguran. Bisa oleh sebab itu mereka, karena jenis pekerjaannya, bisa bekerja di mana saja, tercatat di rumah.

Kata work from home (bekerja dari rumah) yang sebelumnya sudah dipraktekkan beberapa orang, jadi tren baru yang terpaksa atau suka rela diikuti di tengah pendemi Corono yang menakutkan. Tapi kalau mau tahu sisi positifnya, sekarang momen dengan tepat mengevaluasi segala tatanan pada dunia kerja. Untuk semua macam pekerjaan yang bisa diselesaikan minus kehadiran di tempat kerja, kenapa karyawan harus berangkat ke jawatan? Di kota-kota besar seperti Jakarta, banyak pekerja tinggal di pinggiran atau luar kota, dan membutuhkan waktu sekitar 4 jam di setiap hari untuk bergulat pulang pergi ke kantor. Apalagi makin penuh teknologi yang memungkinkan pekerjaan bisa diselesaikan dari manapun dengan sepadan efektifnya.

Perubahan di tatanan dunia kerja ini bakal berimplikasi sangat luas ke bermacam-macam bidang kehidupan. Sisi baiknya, kemacetan akan semakin berkurang, pembangunan gedung perkantoran makin tak relevan, & setiap orang akan memliki makin banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Tapi masalah dengan muncul juga pasti banyak sesudah gerakan bekerja dari rumah kian masif, sama banyaknya seperti zaman bekerja harus di kantor.

Perubahan sering kali menakutkan, bahkan ketika perubahan itu menjanjikan kondisi yang lebih baik. Sewajarnya kita memiliki kecenderungan alamiah buat mempertahankan sesuatu yang selama tersebut sudah berjalan sebagaimana adanya. Tapi kita manusia juga sudah didesain secara alami untuk selalu berusaha menyesuaikan diri. Perubahan sedramatis apapun lama-lama akan menjadi biasa, serta tak lagi merepotkan.

Kalau kemarin kita terpaksa berganti karena wabah Corona, sakarang berganti karena ditemukan cara yang bertambah baik. Ini mungkin yang akan jadi salah satu new biasa baru. Mari menyambut datangnya kenormalan baru, yang barangkali sebentar sedang sudah tak baru lagi. Karena mungkin saat itu sudah ditemukan model baru, misalnya bekerja minus harus bekerja, atau bekerja atau tidak tetap dibayar. Kalau ini semua pasti menyambut gembira.