4 Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Disadari Membunuh Kreativitas Anak

Anak-anak dilahirkan dengan kegeniusan dan kreativitas alami. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG. COM –¬†Anak-anak dilahirkan dengan kegeniusan dan kreativitas alami. Namun sayangnya, seiring tumbuh besarnya mereka, kreativitas alami dapat berubah. Ada yang berkembang dengan baik, ada yang justru terkikis perlahan-lahan.

Pola asuh, perlakuan, & kebiasaan orang tua ternyata berpengaruh besar terhadap kreativitas anak. Minus disadari, ada beberapa kebiasaan orang tua yang niatnya baik namun justru dapat membunuh kreativitas anak. Apa saja kebiasaan-kebiasan itu?

1. Memberikan iming-iming hadiah
Mungkin para orang tua bermaksud baik, memberi iming-iming hadiah atas setiap hasil dan hasil yang baik jadi motivasi dan penyemangat. Akan tetapi penelitian ilmiah menunjukkan, imbalan justru menghambat eksplorasi dan imajinasi anak-anak. Seorang anak yang diiming-imingi mata atau stiker bintang di “buku catatan prestasi” atas keberhasilan terbatas, hanya akan mendorong dirinya melayani usaha yang dibutuhkan untuk memperoleh hadiah.

Selebihnya, ia merasa puas setelah mendapatkan uang lelah dan tidak akan mendorong dirinya lebih jauh. Imbalan hadiah serupa akan menghilangkan kesenangan intrinsik kegiatan kreatif. Yang diinginkan adalah anak-anak yang merasa terlibat, termotivasi, dan berpikir dengan liar, bukan anak-anak yang menginginkan stiker bintang memenuhi buku.

2. Membayang-bayangi

Ada orang tua dengan senang duduk di samping anaknya sambil memberi komentar ketika si anak menggambar, menulis, membaca buku cerita, atau mengerjakan proyek suruhan sekolahnya. Entah dengan alasan ingin membantu sang anak jika menjalani kesulitan, memberi masukan dan ide, atau sekadar kepo. Yang kudu diketahui, kebiasaan membayang-bayangi anak laksana itu akan menghambat kreativitasnya.

Anak akan merasa diawasi, takut melakukan kesalahan, takut mendengar komentar dan kritik. Biarkanlah budak bekerja dengan bebas. Jika budak terus-menerus diawasi, anak tidak akan belajar mengambil risiko. Mereka pula tidak akan mengalami nilai melaksanakan kesalahan sebagai bagian dari kegiatan belajar.

3. Menyekat pilihan
Tanpa disadari orang tua kerap menempatkan anak-anak dalam sistem yang mengajarkan itu “hanya ada satu jawaban yang benar”. Bahkan kebanyakan mainan diberikan lengkap dengan petunjuk penggunaan serta kita hampir tidak membiarkan itu memilih bagaimana cara memainkannya.

Padahal, mengeksplorasi pilihan ialah inti dari cara berpikir lateral; memecahkan masalah melalui pendekatan tepat dan kreatif, dengan menggunakan penalaran yang tidak lugas dan membawabawa ide-ide yang mungkin tidak diperoleh dengan hanya menggunakan logika tradisional langkah demi langkah. Anak-anak yang kreatif merasa bebas untuk mengusulkan solusi alternatif dan lebih cendekia untuk mengikuti rasa ingin cakap mereka.

4. Memberi jadwal terlalu padat
Sekolah, les pelajaran, les piano, klub bela diri, les mengaji, dan mengerjakan PR. Seolah jadwal kegiatan harian anak tidak pernah cukup penuh, Anda terus berusaha mencarikan les ini-itu dan kegiatan ini-itu dengan alasan menggelar potensi anak. Saking sibuknya mencarikan kegiatan untuk stimulasi kreativitas dan bakat, orang tua sering lengah untuk mengalokasikan waktu untuk memberikan stimulus yang paling penting sejak semua itu: kebosanan.

Ya, penting bagi anak untuk merasakan kebosanan. Rasa bosan akan memancing anak berimajinasi dan imajinasi menghasilkan kreativitas. Orang dewasa sering kali mengatakan, “Saya butuh bersandar dan tidak melakukan apa biar untuk mencari ide. ” Namun, mengapa tidak memberlakukannya untuk anak-anak? Padahal Anda sendiri tahu, di saat tidak melakukan apa-apa itulah pikiran kita kerap mendapatkan ide-ide terbaik.

Rekomendasi